Rabu, 15 Maret 2017

Kang Abay - Jodoh Dunia Akhirat

Ku merayu pada Allah yang tahu isi hatiku
Di malam hening aku selalu mengadu
Tunjukkan padaku

Ku aktifkan radarku mencari sosok yang dinanti
Ku ikhlaskan pengharapanku di hati
Siapa dirimu

Dalam kesabaran ku melangkah menjemputmu
Cinta dalam hati akan ku jaga hingga
Allah persatukan kita

Reff:
Jodoh dunia akhirat
Namamu rahasia
Tapi kau ada di masa depanku

Ku sebut dalam do'a
Ku ikhlaskan rinduku
Kita bersama melangkah ke Surga, Abadi ..

"Bukan cinta yang memilihmu, Tapi Allah yang memilihmu, Untuk ku cintai .."



Hasil gambar untuk lirik lagu jodoh dunia akhirat

Senin, 06 Februari 2017

Untuk Calon Imamku

Siapa namamu tak pernah aku tahu
Bagaimana parasmu tak pernah terbayangkan
Seperti apa sifatmu pun aku tak tahu

Insan seperti apa kah dirimu?
Akankah engkau sabar membimbingku?
Akankah engkau tak mengeluh dengan segala keuranganku?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sering muncul dalam benakku

Setiap doa aku sisipkan namamu
Diteguhkan imanmu
Diperhalus akhlakmu

Namun apakah boleh aku berharap
Bahwa namamu adalah nama calon imamku?
Bahwa parasmu adalah paras calon imamku?
Bahwa sifatmu adalah sifat calon imamku?

Teruntuk engkau yang disana, dapatkah engkau membuat harapanku menjadi nyata?

Jumat, 23 Desember 2016

You're my everything

When I see stars, I think of you
Then I always pray for you
And I know what my heart was made for
To love you
Forevermore

When I feel you in my heart
The I hear your voice from your eyes
I'll always love you
And I'm waiting for you until the end of time

Here I am, way to you
I hope that someday you will realize
That I can see forever in your eyes
And I'm wishing my dream will come true
I am lost without you
You are my everything

When I feel you in my heart
The I hear your voice from your eyes
I'll always love you
And I'm waiting for you until the end of time

Here I am, way to you
I hope that someday you will realize
That I can see forever in your eyes
And I'm wishing my dream will come true
I am lost without you
You are my everything

Isn't it clear to see
You belong with me
We are meant to be
In love eternally
My love

Here I am, way to you
I hope that someday you will realize
That I can see forever in your eyes
And I'm wishing my dream will come true
I am lost without you
You are my everything

#gummy

Sabtu, 15 Oktober 2016

Kasih Sayang yang ABADI

Cerita ini adalah kisah nyata hidup seseorang yang saya jadikan cerita karena mungkin dapat menjadikan teman-teman sedikit termotivasi dan lebih bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. bentuk cerita ini adalah cerita bersambung jadi update terus blog ini buat baca kelanjutannya. Selamat membaca
Kasih Sayang yang Abadi

            Aku adalah anak pertama dari sebuah keluarga kecil, sederhana nan harmonis. Namaku Aulia. aku memiliki orang tua yang menurutku mereka adalah orang tua yang paling sempurna di dunia. Aku juga punya adik, umur dia dan umurku selisih 7 tahun. Sekarang dia duduk di kelas 2 SD.
Tahun ajaran baru dimulai, aku sangat bersemangat karena tahun ini aku lulus SMP dan akan menginjak masa putih abu-abu. Masa dimana aku bisa mengembangkan semua bakat-bakatku yang aku punya. Masa dimana aku bisa menunjukan jati diriku sebenarnya. Aku terkadang membayangkan  alangkah serunya masa putih abu-abu itu. Tak jarang aku berdiskusi dengan temanku tentang sekolah-sekolah yang akan kita masuki nantiinya.
            Namun dibalik semangatku yang menggebu-gebu, aku merasa impian ku memakai seragam putih abu-abu hanya tinggal impian belaka. Keadaan ekonomi keluarga yang tak memungkinkan untuk aku melanjutkan sekolah membuat semua impian ku pupus. Bahkan tak jarang ayah membujukku untuk mengikuti kursus saja dengan berbagai iming-iming yang Ia tawarkan. Karena ia menyadari kondisi ekonomi seperti ini sulit untuk bisa menyekolahkanku sampai tingkat atas. Tapi aku bukanlah tipe anak yang pengertian dan mengerti kondisi orang tua, aku kekeh dengan pendirianku ingin melanjutkan sekolah.
            Lama kelamaan persoalan ekonomi itu pun menjadi beban pikiranku juga, sampai-sampai semangat belajarku pun ikut turun. Melihat keadaanku ayah tidak tinggal diam. Dia mendekatiku lalu berkata “kalau kamu bisa meraih peringkat 10 besar tingkat sekolah di ujian nanti, ayah akan daftarkan kamu ke sekolah yang kamu inginkan bahkan ayah akan mengantarkan sendiri anak ayah ini. Ayah janji.” Dengan kata-kata ayah itu tiba-tiba semangat menggebu-gebu yang awalnya hampir hilang kini bangkit lagi. Mataku yang berbinar-binar pun mulai terlihat lagi.  Itulah ayahku, selalu punya cara untuk membuat anak-anaknya tetap semangat belajar. Itu juga yang menjadi alasan kenapa aku begitu sayang kepada nya, bahkan aku lebih dekat dengan ayah daripada ibu.
            Semenjak ayah mengucapkan kata-kata itu semangat belajarku terus meningkat, kata-kata ayah selalu terngiang-ngiang di telingaku. Aku selalu mengingat janji ayah ketika semangatku sedikit menurun walaupun aku pun tak tau bagaimana ayah mendapatkan biaya untuk menyekolahkanku ke tingkat atas nanti. Sikapku yang egois ini mungkin karena dari kecil apa yang aku inginkan selalu dituruti. Yaa.. maklumlah anak pertama.
            Sesekali ayah masih berusaha membujukku untuk mengikuti kursus komputer saja. Namun seakan aku tak peduli dengan keadaan ekonomi keluarga, aku masih bersih keras dengan pendirianku untuk melanjutkan sekolah.  Aku yakin kalau ada keinginan yang kuat, in sya Allah pasti ada jalan.
            Berbulan-bulan aku belajar dengan sungguh-sungguh, beberapa try out telah aku lewati. Namun sampai try out terakhir aku belum bisa memperoleh peringkat 10 besar. Aku mulai tidak percaya diri untuk memenuhi tantangan ayah. Tapi berbeda dengan keinginanku untuk melanjutkan sekolah yang tak pernah surut. Entah apa yang membuatku yakin kalau aku bisa melanjutkan sekolah, hati kecilku yang selalu bilang kalau aku bisa, aku pasti bisa.
            Kira-kira 10 hari sebelum try out terakhir berlangsung, sore itu aku membantu ayah mengangkut kayu yang sudah ayah beli untuk dibawa ke rumah. Adikku juga ikut membantu. Setelah selesai mengangkut kayu aku melihat wajah ayah yang sangat kelelahan, ibu dengan segera membuatkan ayah minum. Tak lama ayah beristirahat ada telepon masuk ke handphone ayah. Ayah dengan segera mengangkat telepon yang ternyata dari bosnya yang di Jakarta. Setelah beberapa menit ayah berbincang-bincang dengan bosnya, ayahpun memutuskan perbincangan dan mengatakan hal yang sedikit mengejutkan kami. Ayah mendapat kerjaan dari bosnya yang di Jakarta. Memang itu hal yang menyenangkan untuk kami. Namun yang membuat kami terkejut adalah ayah diperintahkan untuk berangkat malam itu juga. Tak biasanya ayah berangkat mendadak begini. Biasanya satu minggu setelahnya baru ayah berangkat. Tak ada firasat apapun waktu itu.
            Setelah beberapa menit kemudian tante atau kaka dari ayahku datang. Entah mengapa tiba-tiba tanteku datang,dan alasan ia datang hanya ingin main ke rumahku saja. Momentum seperti itu pun dimanfaatkan ayahku untuk bilang ke tante bahwa ayah akan pergi nanti malam. Tante pun tak kalah kagetnya denganku
            “kenapa dadakan gini? Biasanya juga satu minggu sebelum berangkat udah ngomong tapi ini ko langsung mau pergi-pergi aja? Besok malam saja biar bisa siap-siap dulu.” Tante langsung mengomel saat tahu adik satu-satunya itu akan pergi merantau. Bukan hal yang aneh memang karena ayah sudah biasa merantau. Tapi entah kenapa kepergian ayah kali ini terasa berat.
            “Semakin cepat semakin bagus, lagian dirumah juga pusing ga punya uang. Nanti juga satu minggu disana udah pulang lagi,haha.” Kami yang mendengar kata-kata ayah seperti itu hanya menganggap candaan ayahku saja, karena memang ayahku itu orang yang senang bercanda dan jarang sekali serius, tapi setiap omongan beliau bisa dipercaya itulah yang membuat aku bangga kepadanya.
            Sesuai rencana ayah, malam itupun ayah pergi, aku yang begitu sedih saat itu, sampai-sampai aku menangis. Tapi sebenarnya memang aku selalu menangis sih kalau ayah mau pergi merantau, mungkin karena begitu dekatnya aku dengannya sehingga ditinggal pergi sebentar saja sampai menangisbegini. Tapi aku berusaha menutupi air mata yang sudah ingin menjebol pertahanan mataku saat itu.
             Mataku yang berkaca-kaca tak henti-hentinya memandang kepergian seseorang berkaos putih yang lama-kelamaan disembunyikan oleh pengkolan gang rumahku. Aku berusaha menyeka air mata dan berusaha menutupi kesedihanku dari ibu dan adikku. Tapi sepandai-pandainya aku menyembunyikannya ibuku tetap tahu atas kesedihan yang aku rasakan. “Tapi ini kan hanya sementara, nanti kalau kerjaan ayah sudah selesai pasti ayah akan pulang dan membawa oleh-oleh yang banyak untuk kami.” Itulah bisikan hatiku pada diriku sendiri untuk menghibur diri agar tak berlarut-larut dalam kesedihan. Dan ternyata berhasil, bisikan hatiku itu membuat aku lebih kuat dan melakukan aktivitas seperti biasa yaitu sekolah.
            Hari demi hari telah terlewati, malam itu adalah malam ke lima ayah berada di luar kota. Saat itu aku sedang di kamarku. Waktu menunjukan pukul 22.00, tetapi sepertinya mataku enggan untuk terpejam. Aku dengar suara tawa yang berasal dari kamar ibu. Ya, itu suara tawa ibu. Sedang apa ibu malam-malam begini tertawa selepas itu, tumben sekali. Aku coba menguping dari balik dinding kamarku yang kebetulan kamarku dan kamar orang tuaku bersebelahan. Aku dengar sayup-sayup ibu sedang mengobrol dengan seseorang. Ahh,, pantas saja ternyata ibu sedang menerima telpon dari ayah. Aku hanya tertawa kecil saat mendengarnya. Mungkin mereka berasa kembali seperti muda lagi.
            Dua hari kemudian, aku masih menjalani kegiatan sekolahku seperti biasa. Hari itu seluruh siswa sibuk membersihkan kelas masing-masing karena hari senin nanti akan ada try out terakhir sebelum Ujian Nasional. Ahh.. Rasanya udah tidak sabar ingin cepat lulus dan mengenakan seragam putih abu-abu. Kira-kira nanti aku mau masuk SMA mana yah?? Teman-temanku sih ingin ke SMA N 1  Majenang, SLTA paling favorit di daerahku.
            Setelah semua kelas selesai dibersihkan, siswa-siswipun dipulangkan. Seperti biasanya aku dan teman-temanku pulang mengendarai sepeda. Kami selalu balapan dulu-duluan sampai ke rumah. Tapi mau seberapa cepatpun aku mengayuh sepeda pasti aku akan kalah karena diantara mereka rumahkulah yang paling jauh.
            Hyuhhh.. Sampai juga aku di rumah. Eh, tapi ko tumben sekali ya kakek, nenek dan beberapa om ku main ke rumah? Ahh.. mungkin mereka ada keperluan dengan ibu. “Emmhh.. tapi ngomong-ngomong dimana ya ibu? Lagi banyak tamu begini ko ibu malah ga ada sih?” Gumamku dalam hati
            Om ku yang melihat aku baru saja pulang sekolah pun angkat bicara “Li, ayahmu sekarang lagi ada di Bekasi di rumah paman, penyakit darah rendahnya kambuh dan sekarang masih tiduran terus.”
             Aku yang sudah terbiasa melihat ayah di rumah kalau sedang lemas karena darahnya rendahpun tidak begitu kaget mendengarnya. Aku tahu bahwa ayahku itu kuat,  kalau cuma sakit seperti itu hanya dengan istirahat saja pasti akan sembuh. ”ohh,, terus sekarang ayah masih tiduran di rumah paman?.”
            “Masih”  jawab om ku
            Saat itu aku tak merasakan firasat apapun, aku merasa tak akan terjadi apapun saat itu. Karena perutku sudah berbunyi terus aku pun langsung pergi ke dapur untuk mengambil makan dan membawanya ke depan televisi. Yaa.. seperti itulah kebiasaanku kalau makan ya sambil nonton tv. Ibu yang baru datang dan melihat aku sedang makan sambil nonton tv pun langsung menegur dengan nada tinggi. Kenapa dengan ibu? Biasanya juga tak apa-apa kalau aku makan sambil nonton tv. Tapi aku lihat ada kecemasan dari wajah ibu. Ada apa sebenarnya? Ibu cemas, saudara-saudara dateng dengan tiba-tiba, padahal di rumahku tak ada acara apa-apa. Tapi bentar duluu,, ketika ibu menegurku tadi ibu bilang “qur, matiin tv nya!! Ayah lagi sakit dan ga tau keadaannya sekarang gimana disana, kamu di sini malah enak-enakan nonton tv!!” kata-kata ibu yang masih sangat aku ingat. “Apa sakit ayah tidak seperti biasanya? Sehingga ibu terlihat secemas itu?” batinku.
            Karena teguran ibuku tadi akhirnya aku pun mematikan televisi dan melanjutkan makanku di ruang makan. Namun selama aku makan aku selalu terpikir kondisi ayah sekarang, Sebenarnya sakit apa ayah? Dengan kata-kata ibu tadi membuat aku merasakan cemas juga seperti ibu. Tak terasa air mataku menetes. Semoga keadaan ayah baik-baik saja.
            Ku hapus air mataku, lalu ku ambil air wudhu agar hatiku lebih tenang, dan akupun baru ingat kalau aku belum melaksanakan kewajibanku kepada-Nya. Saat aku ingin mengambil wudhu, aku yang saat itu berada di kamar mandi tanpa sengaja mendengar percakapan ibu dengan nenek di dapur. Dan betapa terkejutnya aku dengan apa yang dikatakan nenek bahwa ayahku sudah tiada. Apa maksud nenek bicara seperti itu? Berani sekali nenek bilang seperti itu? Ayahku hanya sakit, ayah ga mungkin meninggalkan aku. Ayah juga udah janji bakal mengantar aku untuk mendaftar sekolah nanti, jadi ga mungkin kalau ayah meninggal. Ga mungkin!!
            Hati ini remuk, hancur berkeping-keping, orang yang paling aku sayang dikabarkan telah tiada. Seakan tak percaya, aku yang selalu beranggapan bahwa kedua orang tuaku takkan meninggalkan aku, mereka akan hidup bersamaku sampai aku sukses, sampai aku dewasa, sampai aku tua nanti. Aku masih tak percaya dengan perkataan nenek tadi, aku masih menganggap bahwa ayah hanya sakit. Aku tak percaya dan tak mau percaya.
            Seluruh tubuhku bergetar, lemas seakan tak mampu menerima kenyataan yang ada. Tak tahan rasanya dengan kondisi seperti ini. Aku coba untuk berdiri, tubuhku terasa lemas sekali, kemudian ku ambil air wudhu yang tadi sempat tertunda dengan kabar omong kosong yang sangat merusak suasana hatiku saat itu. Setelah selesai wudhu aku bergegas mengambil mukenah dan sholat.
            Sepanjang sholat tak henti-hentinya air mataku mengalir. Aku memang tak mau percaya tapi omongan nenek tadi enggan enyah dari pikiranku. Sampai akhir salampun aku tak mampu membendung air yang mengalir dari mataku itu bahkan semakin deras. Bingung. Yaa.. Aku bingung harus berbuat apa, aku tak ingin percaya tapi semua orang membicarakan ayahku sama seperti yang nenekku bilang tadi. Tapi dari mana mereka tahu bahkan ibuku pun tak tahu.
            “Ya Allah, apa benar apa yang mereka katakan tentang ayahku? Pasti salah kan ya Rabbi? Aku mohon ya Robb sehatkan lah kembali ayahku, aku berjanji ya Allah kalau ayah nanti pulang dan sehat lagi, aku tidak akan merengek-rengek untuk bersekolah lagi. Tapi aku mohon dengan sangat ya Allah berikan ayahku kesehatan dan keselamatan agar ayah bisa kumpul lagi dengan kami. Aku sayang sekali kepadanya Ya Allah. Tolong jangan ambil dia dulu dari kami, ayah belum melihat aku sukses, aku belum bisa membahagiakannya Ya Allah. Beri aku kesempatan untukmembuatnya bangga.” Rayuku kepada Allah
            Setelah sekian lama aku mengunci diri di kamar, aku mencoba untuk keluar. Aku lihat di rumahku semakin banyak orang. Hatiku semakin tak karuan, anggapan yang tadinya aku dirikan sangat kokoh bahwa ayahku hanya sakit biasa sepertinya mulai runtuh. Badanku semakin bergetar. Lemas. Tak punya semangat hidup.
            Ibu. Yaa.. mungkin sekarang ibu sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku bergegas mencari ibu. Ternyata apa yang aku rasakan di rasakan oleh ibu juga, bahkan mungkin ibu lebih tidak menerima dengan kabar itu. Saking lemasnya sampai ibu tak mau beranjak dari tempat tidurnya. Aku tanya pelan-pelan kepada ibu. “Bu, apa benar ayah sudah meninggal?” tanyaku dengan nada lemah menahan tangis. Bukanya ibu menjawab pertanyaanku malah ibu langsung memeluku dan menangis. Aku tahu maksud pelukan dan tangisan ibu. Hatiku seperti tersambar petir. Sakiiiit sekali.
            Ayahku benar-benar sudah tiada, apa aku terlalu bandel sehingga Allah tak mau mengabulkan do’aku? Atau begitu sayangnya kah Allah kepada ayah sehingga Allah secepat itu memanggil ayah? Tapi aku belum siap untuk kehilangan ayah. Aku belum jadi anak yang baik, anak yang membanggakan ayah. Dan bagaimana ujianku nanti, sama siapa aku harus bertanya ketika aku belajar? Seperti sebuah film yang terputar kembali. Kenangan aku bersama ayah seperti tergambar jelas di depan mataku. Saat ayah memarahi aku karena aku tak memerhatikan saat beliau sedang mengjarkan aku ngaji, saat ayah bercerita tentang kisah hidupnya, saat ayah memanjakan aku dengan hadiah-hadiah yang ia berikan dan semua kegiatan-kegiatan yang aku lalui bersama ayah.
            Tangisku pun pecah lagi. Tangis yang sejak tadi aku tahan kini tumpah. Aku tak tega melihat ibu seperti itu. Pasti kini ibu sedang kacau balau. Bahkan mungkin kesedihannya melebihi aku. Bagaimana tidak? sahabat yang selama ini mendampinginya kini tak bisa lagi menemaninya. Sahabat sejati. Sahabat yang telah ikut mendidik anak-anaknya. Sahabat yang telah memberikan kecukupan hidup untuknya dan anak-anaknya. Sekarang ibu harus menghadapi semua sendiri.
            Aku mulai merasa khawatir dengan kehidupanku dan keluargaku setelah sepeninggal ayah nanti. Kami sangat tergantung pada ayah, apa kami bisa menjalani semua tanpa dia?
            Ahh.. ngomong apa aku ini, apa ini tandanya aku percaya bahwa ayah sudah tak ada? Mungkin saja semua ini hanya omong kosong belaka. Mereka hanya salah sangka saja dengan kondisi ayah. Buktinya sampai sekarang belum ada kabar yang pasti.
Dalam hati kecilku aku masih sangat berharap bahwa ayah hanya sakit biasa. Namun lama-kelamaan kenapa saudara dan tetangga-tetangga  berbondong-bondong datang ke rumah dan mengucapkan bela sungkawa kepada kami? Begitu luluh lantah hati ini, aku harus belajar mengikhlaskan dan menerima kenyataan yang ada. Kenyataan yang teramat menyakitkan dan tak pernah aku bayangkan.
Siang berganti malam, namun jenazah ayah belum sampai juga. Kata ibu jenazah ayah masih belum boleh dibawa pulang oleh pihak kepolisian dengan alasan yang menjemput jenazah ayah bukan keluarga kandung tapi hanya keluarga ipar. Karena ayah meninggal di tempat kerja jadi pihak kepolisianpun turut ikut campur dalam proses pemulangan jenazah ayah. Aku begitu kesal saat mendengarnya, kenapa hanya karena yang menjemput ayah bukan saudara kandung, pemulangan jenazah ayah jadi persulit begini. Aku jadi teringat pesan ayah dulu, ayah bilang “Nanti kalau ayah meninggal, kalau bisa ayah sesegera mungkin dikuburkan jangan sampai diinapkan”. Dan saat itu aku merasa sudah tidak bisa menjalankan amanah dari ayah, permintaan ayah yang terakhir tapi aku tak bisa menjalankan amanah itu. Maafkan aku ayah, maafkan anakmu ini. :,(
Semalaman air mataku tak henti-hentinya terus mengalir. Guruku datang dan mengajak ngobrolpun aku hanya bisa  diam saja, seperti orang yang tak punya semangat hidup. Aku masih menunggu kedatangan ayah, sepertinya malam ini jenazah ayah belum akan tiba  karena aku sempat denger ibu sedang ditelpon oleh adik ibu yang menjemput ayah bahwa beliau masih dalam perjalanan dan kemungkinan akan sampai besok subuh. Semakin tak bisa tidurlah aku menunggu kedatangan ayah. Aku ingin memastikan, apakah itu memang benar ayah?. Yaaa.. memang aku masih belum percaya 100% kalau ayah sudah pergi.
Aku berusaha membuka mataku pelan-pelan, ternyata tadi malam aku tertidur. Ehhh.. sebentar, aku tertidur? Apa jangan-jangan aku hanya mimpi buruk? Dengan penuh harap aku langsung berlari keluar kamar untuk membuktikan apakah aku hanya mimpi buruk atau memang ayah sudah pergi meninggalkan aku. Dengan segera ku buka pintu kamar dan melihat sekeliling rumahku, ku lihat banyak orang yang sedang sibuk menyiapkan perlengkapan untuk pemakaman. Hmmm.. ternyata ini bukan mimpi, ayah memang sudah benar-benar pergi. Tapi sepertinya jenazah ayah belum sampai. Pantas saja, jarum jam baru menunjukan pukul 03.00, jadi pasti masih diperjalanan. “Lebih baik aku ambil wudhu dulu terus shalat,untuk menenangkan hati yang masih kacau balau.” Batinku
Beberapa menit sebelum subuh, jenazah ayah tiba. Aku tak berani keluar kamar untuk melihat ayah. Aku takut aku tak sanggup melihat ayah yang sudah terbujur kaku,dingin dan pucat. Bahkan sampai subuh tibapun aku tak mau keluar, kebetulan aku masih punya air wudhu jadi tak perlu keluar untuk mengambil air wudhu lagi. Setelah shalat subuh pun aku masih takut untuk keluar kamar. Tiba-tiba ibu masuk kamar memberi tahu bahwa jenazah ayah sudah tiba. Pasti ibu berfikir aku belum tahu dengan kedatangan ayah sehingga aku belum keluar kamar juga.
Setelah aku yakin bahwa aku kuat, aku coba untuk keluar kamar dan melihat ayah untuk yang terakhir kalinya. Saat aku buka pintu ternyata sudah banyak orang yang sedang bertaziah di rumahku. Perlahan aku dekati tempat pembaringan ayah. Ku pandangi lekat-lekat wajah yang nantinya tak akan pernah aku lihat lagi. Seakan masih tak percaya, ingin rasanya aku bangunkan ayah dan melarang ayah untuk pergi meninggalkan aku. Tapi itu semua tak mungkin, aku harus bisa menerima kenyataan dan bisa bangkit dari semua ini. aku tak mau membuat ibu semakin sedih dan menambah beban ibu. Aku harus bangkit dari keterpurukan dan membantu ibu untuk membuka lembaran baru tanpa ayah.
Terasa sangat teriris-iris, melihat sedikit demi sedikit tanah mulai menutupi tubuh ayah. Itu menandakan bahwa sekarang duniaku dan dunia ayah sekarang berbeda.
Selamat tinggal ayah. Semoga Allah mempertemukan kita di syurga-Nya nanti ya yah. Aku hanya bisa mendo’akan ayah dari sini. Ayah istirahat yang tenang yah. Aku, ibu dan adik akan baik-baik saja. Ayah disana jangan khawatir. Aku janji tidak akan bandel lagi dan menyusahkan ibu. Dan akan aku kubur impianku untuk sekolah lagi, aku tak mau merengek-rengek tentang hal itu ke ibu, aku tidak mau ibu meninggalkan aku lagi seperti ayah meninggalkan aku karna keinginanku itu. Ayah, aku pulang dulu yah, nanti aku akan ke sini lagi. Selamat beristirahat yang panjang ayah.
Langkah demi langkah aku tinggalkan peristirahatan ayah yang terakhir menuju lembar kehidupan yang baru, kehidupan tanpa seorang AYAH. BERSAMBUNG…..

Rabu, 17 Februari 2016

Guardian Angel Light - Lampu Tidur Malaikat
Lampu tidur anak yang hemat listrik dan sangat menarik untuk menemani tidur anak anda
Product Details:
Bahan: Plastik ABS, Lampu LED
Daya: 110-220 V
Berat: 35 gr
Ukuran: 9 x 5 x 4 cm
Ukuran Kotak : 10 x 6 x 5.5 cm
Perhitungan pengiriman : 60 gr
Warna Lampu: Putih
Dilengkapi dengan sensor cahaya. Hanya akan menyala saat gelap.

Yang tertarik langsung inbox atau PM aja ke
SMS/WA: 089696703340
BBM: 5a236b10






Selasa, 16 Februari 2016

Tak ada daya dan upaya

Tak ada daya dan upaya
Ketika tak henti-hentinya hujaman pedang 
Menusuk hati yang terdalam

Tak ada daya dan upaya
Ketika acungan telunjuk 
Terus menerus menumpahkan kesalahan 

Tak ada daya dan upaya 
Ketika keringat yang bercucuran
Tak pernah dihargai

Tak ada daya dan upaya
Ketika hati yang tulus
Selalu dicurigai

Tak ada daya dan upaya
Ketika ingin berdiri sendiri
Namun tak direstui

Begitu kejamkah dunia?
Sehingga suara hati ini
Tak mau didengarnya lagi?

Ataukah begitu banyak dosa tak terampuni
Sehingga uluran dan dekapan tanganpun
Enggan menghampiri?

Tak ada daya dan upaya 
Ketika Sang Maha Kuasa pun
Belum berkenan menurunkan malaikat-malaikatNya

Ya Allah... Tak ada daya dan upaya 
Aku tanpa-Mu :')

Kamis, 11 Februari 2016

Ketika Allah Jatuh Cinta

Tahukah kamu, begitu indah cara Allah mencintai hambaNya. Tak ada yang bisa mencintai seperti Allah mencintai hambaNya. Ada kala kita merasa Allah sedang membenci kita, cobaan demi cobaan tak henti-hentinya menghampiri tapi itulah cara Allah mencintai hambaNya. Ketika itulah Allah sedang begitu jatuh cinta kepada kita. Berkhusnudzonlah kepada Allah, karena Allah sesuai dengan prasangka hambaNya. Belum tentu apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah.

ALLAH berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al Baqarah : 216)