Cerita ini adalah kisah nyata hidup seseorang yang saya jadikan cerita karena mungkin dapat menjadikan teman-teman sedikit termotivasi dan lebih bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. bentuk cerita ini adalah cerita bersambung jadi update terus blog ini buat baca kelanjutannya. Selamat membaca
Kasih Sayang yang Abadi
Aku adalah anak pertama dari sebuah keluarga kecil, sederhana nan
harmonis. Namaku Aulia. aku memiliki orang tua yang menurutku mereka adalah
orang tua yang paling sempurna di dunia. Aku juga punya adik, umur dia dan
umurku selisih 7 tahun. Sekarang dia duduk di kelas 2 SD.
Tahun ajaran baru dimulai, aku sangat bersemangat
karena tahun ini aku lulus SMP dan akan menginjak masa putih abu-abu. Masa
dimana aku bisa mengembangkan semua bakat-bakatku yang aku punya. Masa dimana
aku bisa menunjukan jati diriku sebenarnya. Aku terkadang membayangkan alangkah serunya masa putih abu-abu itu. Tak
jarang aku berdiskusi dengan temanku tentang sekolah-sekolah yang akan kita
masuki nantiinya.
Namun dibalik
semangatku yang menggebu-gebu, aku merasa impian ku memakai seragam putih
abu-abu hanya tinggal impian belaka. Keadaan ekonomi keluarga yang tak memungkinkan
untuk aku melanjutkan sekolah membuat semua impian ku pupus. Bahkan tak jarang
ayah membujukku untuk mengikuti kursus saja dengan berbagai iming-iming yang Ia
tawarkan. Karena ia menyadari kondisi ekonomi seperti ini sulit untuk bisa
menyekolahkanku sampai tingkat atas. Tapi aku bukanlah tipe anak yang
pengertian dan mengerti kondisi orang tua, aku kekeh dengan pendirianku ingin
melanjutkan sekolah.
Lama
kelamaan persoalan ekonomi itu pun menjadi beban pikiranku juga, sampai-sampai
semangat belajarku pun ikut turun. Melihat keadaanku ayah tidak tinggal diam. Dia
mendekatiku lalu berkata “kalau kamu bisa meraih peringkat 10 besar tingkat
sekolah di ujian nanti, ayah akan daftarkan kamu ke sekolah yang kamu inginkan
bahkan ayah akan mengantarkan sendiri anak ayah ini. Ayah janji.” Dengan
kata-kata ayah itu tiba-tiba semangat menggebu-gebu yang awalnya hampir hilang
kini bangkit lagi. Mataku yang berbinar-binar pun mulai terlihat lagi. Itulah ayahku, selalu punya cara untuk membuat
anak-anaknya tetap semangat belajar. Itu juga yang menjadi alasan kenapa aku
begitu sayang kepada nya, bahkan aku lebih dekat dengan ayah daripada ibu.
Semenjak
ayah mengucapkan kata-kata itu semangat belajarku terus meningkat, kata-kata
ayah selalu terngiang-ngiang di telingaku. Aku selalu mengingat janji ayah
ketika semangatku sedikit menurun walaupun aku pun tak tau bagaimana ayah
mendapatkan biaya untuk menyekolahkanku ke tingkat atas nanti. Sikapku yang
egois ini mungkin karena dari kecil apa yang aku inginkan selalu dituruti.
Yaa.. maklumlah anak pertama.
Sesekali
ayah masih berusaha membujukku untuk mengikuti kursus komputer saja. Namun seakan
aku tak peduli dengan keadaan ekonomi keluarga, aku masih bersih keras dengan pendirianku
untuk melanjutkan sekolah. Aku yakin
kalau ada keinginan yang kuat, in sya Allah pasti ada jalan.
Berbulan-bulan
aku belajar dengan sungguh-sungguh, beberapa try out telah aku lewati. Namun
sampai try out terakhir aku belum bisa memperoleh peringkat 10 besar. Aku mulai
tidak percaya diri untuk memenuhi tantangan ayah. Tapi berbeda dengan
keinginanku untuk melanjutkan sekolah yang tak pernah surut. Entah apa yang
membuatku yakin kalau aku bisa melanjutkan sekolah, hati kecilku yang selalu
bilang kalau aku bisa, aku pasti bisa.
Kira-kira 10
hari sebelum try out terakhir berlangsung, sore itu aku membantu ayah
mengangkut kayu yang sudah ayah beli untuk dibawa ke rumah. Adikku juga ikut
membantu. Setelah selesai mengangkut kayu aku melihat wajah ayah yang sangat
kelelahan, ibu dengan segera membuatkan ayah minum. Tak lama ayah beristirahat
ada telepon masuk ke handphone ayah. Ayah dengan segera mengangkat telepon yang
ternyata dari bosnya yang di Jakarta. Setelah beberapa menit ayah
berbincang-bincang dengan bosnya, ayahpun memutuskan perbincangan dan
mengatakan hal yang sedikit mengejutkan kami. Ayah mendapat kerjaan dari bosnya
yang di Jakarta. Memang itu hal yang menyenangkan untuk kami. Namun yang
membuat kami terkejut adalah ayah diperintahkan untuk berangkat malam itu juga.
Tak biasanya ayah berangkat mendadak begini. Biasanya satu minggu setelahnya
baru ayah berangkat. Tak ada firasat apapun waktu itu.
Setelah
beberapa menit kemudian tante atau kaka dari ayahku datang. Entah mengapa
tiba-tiba tanteku datang,dan alasan ia datang hanya ingin main ke rumahku saja.
Momentum seperti itu pun dimanfaatkan ayahku untuk bilang ke tante bahwa ayah
akan pergi nanti malam. Tante pun tak kalah kagetnya denganku
“kenapa
dadakan gini? Biasanya juga satu minggu sebelum berangkat udah ngomong tapi ini
ko langsung mau pergi-pergi aja? Besok malam saja biar bisa siap-siap dulu.”
Tante langsung mengomel saat tahu adik satu-satunya itu akan pergi merantau.
Bukan hal yang aneh memang karena ayah sudah biasa merantau. Tapi entah kenapa
kepergian ayah kali ini terasa berat.
“Semakin cepat semakin bagus, lagian
dirumah juga pusing ga punya uang. Nanti juga satu minggu disana udah pulang
lagi,haha.” Kami yang mendengar kata-kata ayah seperti itu hanya menganggap
candaan ayahku saja, karena memang ayahku itu orang yang senang bercanda dan
jarang sekali serius, tapi setiap omongan beliau bisa dipercaya itulah yang
membuat aku bangga kepadanya.
Sesuai
rencana ayah, malam itupun ayah pergi, aku yang begitu sedih saat itu,
sampai-sampai aku menangis. Tapi sebenarnya memang aku selalu menangis sih
kalau ayah mau pergi merantau, mungkin karena begitu dekatnya aku dengannya
sehingga ditinggal pergi sebentar saja sampai menangisbegini. Tapi aku berusaha
menutupi air mata yang sudah ingin menjebol pertahanan mataku saat itu.
Mataku yang berkaca-kaca tak henti-hentinya
memandang kepergian seseorang berkaos putih yang lama-kelamaan disembunyikan
oleh pengkolan gang rumahku. Aku berusaha menyeka air mata dan berusaha
menutupi kesedihanku dari ibu dan adikku. Tapi sepandai-pandainya aku
menyembunyikannya ibuku tetap tahu atas kesedihan yang aku rasakan. “Tapi ini
kan hanya sementara, nanti kalau kerjaan ayah sudah selesai pasti ayah akan
pulang dan membawa oleh-oleh yang banyak untuk kami.” Itulah bisikan hatiku pada
diriku sendiri untuk menghibur diri agar tak berlarut-larut dalam kesedihan.
Dan ternyata berhasil, bisikan hatiku itu membuat aku lebih kuat dan melakukan
aktivitas seperti biasa yaitu sekolah.
Hari demi
hari telah terlewati, malam itu adalah malam ke lima ayah berada di luar kota. Saat
itu aku sedang di kamarku. Waktu menunjukan pukul 22.00, tetapi sepertinya
mataku enggan untuk terpejam. Aku dengar suara tawa yang berasal dari kamar
ibu. Ya, itu suara tawa ibu. Sedang apa ibu malam-malam begini tertawa selepas
itu, tumben sekali. Aku coba menguping dari balik dinding kamarku yang
kebetulan kamarku dan kamar orang tuaku bersebelahan. Aku dengar sayup-sayup
ibu sedang mengobrol dengan seseorang. Ahh,, pantas saja ternyata ibu sedang
menerima telpon dari ayah. Aku hanya tertawa kecil saat mendengarnya. Mungkin
mereka berasa kembali seperti muda lagi.
Dua hari
kemudian, aku masih menjalani kegiatan sekolahku seperti biasa. Hari itu
seluruh siswa sibuk membersihkan kelas masing-masing karena hari senin nanti
akan ada try out terakhir sebelum Ujian Nasional. Ahh.. Rasanya udah tidak
sabar ingin cepat lulus dan mengenakan seragam putih abu-abu. Kira-kira nanti
aku mau masuk SMA mana yah?? Teman-temanku sih ingin ke SMA N 1 Majenang, SLTA paling favorit di daerahku.
Setelah
semua kelas selesai dibersihkan, siswa-siswipun dipulangkan. Seperti biasanya
aku dan teman-temanku pulang mengendarai sepeda. Kami selalu balapan
dulu-duluan sampai ke rumah. Tapi mau seberapa cepatpun aku mengayuh sepeda
pasti aku akan kalah karena diantara mereka rumahkulah yang paling jauh.
Hyuhhh..
Sampai juga aku di rumah. Eh, tapi ko tumben sekali ya kakek, nenek dan
beberapa om ku main ke rumah? Ahh.. mungkin mereka ada keperluan dengan ibu. “Emmhh..
tapi ngomong-ngomong dimana ya ibu? Lagi banyak tamu begini ko ibu malah ga ada
sih?” Gumamku dalam hati
Om ku yang
melihat aku baru saja pulang sekolah pun angkat bicara “Li, ayahmu sekarang
lagi ada di Bekasi di rumah paman, penyakit darah rendahnya kambuh dan sekarang
masih tiduran terus.”
Aku yang sudah terbiasa melihat ayah di rumah
kalau sedang lemas karena darahnya rendahpun tidak begitu kaget mendengarnya.
Aku tahu bahwa ayahku itu kuat, kalau cuma
sakit seperti itu hanya dengan istirahat saja pasti akan sembuh. ”ohh,, terus
sekarang ayah masih tiduran di rumah paman?.”
“Masih” jawab om ku
Saat itu aku
tak merasakan firasat apapun, aku merasa tak akan terjadi apapun saat itu.
Karena perutku sudah berbunyi terus aku pun langsung pergi ke dapur untuk
mengambil makan dan membawanya ke depan televisi. Yaa.. seperti itulah kebiasaanku
kalau makan ya sambil nonton tv. Ibu yang baru datang dan melihat aku sedang
makan sambil nonton tv pun langsung menegur dengan nada tinggi. Kenapa dengan
ibu? Biasanya juga tak apa-apa kalau aku makan sambil nonton tv. Tapi aku lihat
ada kecemasan dari wajah ibu. Ada apa sebenarnya? Ibu cemas, saudara-saudara
dateng dengan tiba-tiba, padahal di rumahku tak ada acara apa-apa. Tapi bentar
duluu,, ketika ibu menegurku tadi ibu bilang “qur, matiin tv nya!! Ayah lagi
sakit dan ga tau keadaannya sekarang gimana disana, kamu di sini malah
enak-enakan nonton tv!!” kata-kata ibu yang masih sangat aku ingat. “Apa sakit
ayah tidak seperti biasanya? Sehingga ibu terlihat secemas itu?” batinku.
Karena
teguran ibuku tadi akhirnya aku pun mematikan televisi dan melanjutkan makanku
di ruang makan. Namun selama aku makan aku selalu terpikir kondisi ayah
sekarang, Sebenarnya sakit apa ayah? Dengan kata-kata ibu tadi membuat aku
merasakan cemas juga seperti ibu. Tak terasa air mataku menetes. Semoga keadaan
ayah baik-baik saja.
Ku hapus air
mataku, lalu ku ambil air wudhu agar hatiku lebih tenang, dan akupun baru ingat
kalau aku belum melaksanakan kewajibanku kepada-Nya. Saat aku ingin mengambil
wudhu, aku yang saat itu berada di kamar mandi tanpa sengaja mendengar
percakapan ibu dengan nenek di dapur. Dan betapa terkejutnya aku dengan apa
yang dikatakan nenek bahwa ayahku sudah tiada. Apa maksud nenek bicara seperti
itu? Berani sekali nenek bilang seperti itu? Ayahku hanya sakit, ayah ga
mungkin meninggalkan aku. Ayah juga udah janji bakal mengantar aku untuk
mendaftar sekolah nanti, jadi ga mungkin kalau ayah meninggal. Ga mungkin!!
Hati ini
remuk, hancur berkeping-keping, orang yang paling aku sayang dikabarkan telah
tiada. Seakan tak percaya, aku yang selalu beranggapan bahwa kedua orang tuaku
takkan meninggalkan aku, mereka akan hidup bersamaku sampai aku sukses, sampai
aku dewasa, sampai aku tua nanti. Aku masih tak percaya dengan perkataan nenek
tadi, aku masih menganggap bahwa ayah hanya sakit. Aku tak percaya dan tak mau
percaya.
Seluruh
tubuhku bergetar, lemas seakan tak mampu menerima kenyataan yang ada. Tak tahan
rasanya dengan kondisi seperti ini. Aku coba untuk berdiri, tubuhku terasa
lemas sekali, kemudian ku ambil air wudhu yang tadi sempat tertunda dengan
kabar omong kosong yang sangat merusak suasana hatiku saat itu. Setelah selesai
wudhu aku bergegas mengambil mukenah dan sholat.
Sepanjang
sholat tak henti-hentinya air mataku mengalir. Aku memang tak mau percaya tapi
omongan nenek tadi enggan enyah dari pikiranku. Sampai akhir salampun aku tak
mampu membendung air yang mengalir dari mataku itu bahkan semakin deras. Bingung.
Yaa.. Aku bingung harus berbuat apa, aku tak ingin percaya tapi semua orang
membicarakan ayahku sama seperti yang nenekku bilang tadi. Tapi dari mana
mereka tahu bahkan ibuku pun tak tahu.
“Ya Allah,
apa benar apa yang mereka katakan tentang ayahku? Pasti salah kan ya Rabbi? Aku
mohon ya Robb sehatkan lah kembali ayahku, aku berjanji ya Allah kalau ayah nanti
pulang dan sehat lagi, aku tidak akan merengek-rengek untuk bersekolah lagi.
Tapi aku mohon dengan sangat ya Allah berikan ayahku kesehatan dan keselamatan
agar ayah bisa kumpul lagi dengan kami. Aku sayang sekali kepadanya Ya Allah.
Tolong jangan ambil dia dulu dari kami, ayah belum melihat aku sukses, aku
belum bisa membahagiakannya Ya Allah. Beri aku kesempatan untukmembuatnya
bangga.” Rayuku kepada Allah
Setelah
sekian lama aku mengunci diri di kamar, aku mencoba untuk keluar. Aku lihat di
rumahku semakin banyak orang. Hatiku semakin tak karuan, anggapan yang tadinya
aku dirikan sangat kokoh bahwa ayahku hanya sakit biasa sepertinya mulai runtuh.
Badanku semakin bergetar. Lemas. Tak punya semangat hidup.
Ibu. Yaa..
mungkin sekarang ibu sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku bergegas
mencari ibu. Ternyata apa yang aku rasakan di rasakan oleh ibu juga, bahkan
mungkin ibu lebih tidak menerima dengan kabar itu. Saking lemasnya sampai ibu
tak mau beranjak dari tempat tidurnya. Aku tanya pelan-pelan kepada ibu. “Bu,
apa benar ayah sudah meninggal?” tanyaku dengan nada lemah menahan tangis.
Bukanya ibu menjawab pertanyaanku malah ibu langsung memeluku dan menangis. Aku
tahu maksud pelukan dan tangisan ibu. Hatiku seperti tersambar petir. Sakiiiit
sekali.
Ayahku
benar-benar sudah tiada, apa aku terlalu bandel sehingga Allah tak mau
mengabulkan do’aku? Atau begitu sayangnya kah Allah kepada ayah sehingga Allah
secepat itu memanggil ayah? Tapi aku belum siap untuk kehilangan ayah. Aku
belum jadi anak yang baik, anak yang membanggakan ayah. Dan bagaimana ujianku
nanti, sama siapa aku harus bertanya ketika aku belajar? Seperti sebuah film
yang terputar kembali. Kenangan aku bersama ayah seperti tergambar jelas di
depan mataku. Saat ayah memarahi aku karena aku tak memerhatikan saat beliau
sedang mengjarkan aku ngaji, saat ayah bercerita tentang kisah hidupnya, saat
ayah memanjakan aku dengan hadiah-hadiah yang ia berikan dan semua
kegiatan-kegiatan yang aku lalui bersama ayah.
Tangisku pun
pecah lagi. Tangis yang sejak tadi aku tahan kini tumpah. Aku tak tega melihat
ibu seperti itu. Pasti kini ibu sedang kacau balau. Bahkan mungkin kesedihannya
melebihi aku. Bagaimana tidak? sahabat yang selama ini mendampinginya kini tak
bisa lagi menemaninya. Sahabat sejati. Sahabat yang telah ikut mendidik
anak-anaknya. Sahabat yang telah memberikan kecukupan hidup untuknya dan
anak-anaknya. Sekarang ibu harus menghadapi semua sendiri.
Aku mulai
merasa khawatir dengan kehidupanku dan keluargaku setelah sepeninggal ayah
nanti. Kami sangat tergantung pada ayah, apa kami bisa menjalani semua tanpa
dia?
Ahh..
ngomong apa aku ini, apa ini tandanya aku percaya bahwa ayah sudah tak ada?
Mungkin saja semua ini hanya omong kosong belaka. Mereka hanya salah sangka
saja dengan kondisi ayah. Buktinya sampai sekarang belum ada kabar yang pasti.
Dalam hati kecilku aku masih sangat berharap bahwa
ayah hanya sakit biasa. Namun lama-kelamaan kenapa saudara dan
tetangga-tetangga berbondong-bondong
datang ke rumah dan mengucapkan bela sungkawa kepada kami? Begitu luluh lantah
hati ini, aku harus belajar mengikhlaskan dan menerima kenyataan yang ada.
Kenyataan yang teramat menyakitkan dan tak pernah aku bayangkan.
Siang berganti malam, namun jenazah ayah belum sampai
juga. Kata ibu jenazah ayah masih belum boleh dibawa pulang oleh pihak
kepolisian dengan alasan yang menjemput jenazah ayah bukan keluarga kandung
tapi hanya keluarga ipar. Karena ayah meninggal di tempat kerja jadi pihak
kepolisianpun turut ikut campur dalam proses pemulangan jenazah ayah. Aku
begitu kesal saat mendengarnya, kenapa hanya karena yang menjemput ayah bukan
saudara kandung, pemulangan jenazah ayah jadi persulit begini. Aku jadi
teringat pesan ayah dulu, ayah bilang “Nanti kalau ayah meninggal, kalau bisa
ayah sesegera mungkin dikuburkan jangan sampai diinapkan”. Dan saat itu aku
merasa sudah tidak bisa menjalankan amanah dari ayah, permintaan ayah yang
terakhir tapi aku tak bisa menjalankan amanah itu. Maafkan aku ayah, maafkan
anakmu ini. :,(
Semalaman air mataku tak henti-hentinya terus
mengalir. Guruku datang dan mengajak ngobrolpun aku hanya bisa diam saja, seperti orang yang tak punya
semangat hidup. Aku masih menunggu kedatangan ayah, sepertinya malam ini
jenazah ayah belum akan tiba karena aku
sempat denger ibu sedang ditelpon oleh adik ibu yang menjemput ayah bahwa beliau
masih dalam perjalanan dan kemungkinan akan sampai besok subuh. Semakin tak
bisa tidurlah aku menunggu kedatangan ayah. Aku ingin memastikan, apakah itu
memang benar ayah?. Yaaa.. memang aku masih belum percaya 100% kalau ayah sudah
pergi.
Aku berusaha membuka mataku pelan-pelan, ternyata tadi
malam aku tertidur. Ehhh.. sebentar, aku tertidur? Apa jangan-jangan aku hanya
mimpi buruk? Dengan penuh harap aku langsung berlari keluar kamar untuk
membuktikan apakah aku hanya mimpi buruk atau memang ayah sudah pergi
meninggalkan aku. Dengan segera ku buka pintu kamar dan melihat sekeliling
rumahku, ku lihat banyak orang yang sedang sibuk menyiapkan perlengkapan untuk
pemakaman. Hmmm.. ternyata ini bukan mimpi, ayah memang sudah benar-benar
pergi. Tapi sepertinya jenazah ayah belum sampai. Pantas saja, jarum jam baru
menunjukan pukul 03.00, jadi pasti masih diperjalanan. “Lebih baik aku ambil
wudhu dulu terus shalat,untuk menenangkan hati yang masih kacau balau.” Batinku
Beberapa menit sebelum subuh, jenazah ayah tiba. Aku
tak berani keluar kamar untuk melihat ayah. Aku takut aku tak sanggup melihat
ayah yang sudah terbujur kaku,dingin dan pucat. Bahkan sampai subuh tibapun aku
tak mau keluar, kebetulan aku masih punya air wudhu jadi tak perlu keluar untuk
mengambil air wudhu lagi. Setelah shalat subuh pun aku masih takut untuk keluar
kamar. Tiba-tiba ibu masuk kamar memberi tahu bahwa jenazah ayah sudah tiba.
Pasti ibu berfikir aku belum tahu dengan kedatangan ayah sehingga aku belum
keluar kamar juga.
Setelah aku yakin bahwa aku kuat, aku coba untuk
keluar kamar dan melihat ayah untuk yang terakhir kalinya. Saat aku buka pintu
ternyata sudah banyak orang yang sedang bertaziah di rumahku. Perlahan aku
dekati tempat pembaringan ayah. Ku pandangi lekat-lekat wajah yang nantinya tak
akan pernah aku lihat lagi. Seakan masih tak percaya, ingin rasanya aku
bangunkan ayah dan melarang ayah untuk pergi meninggalkan aku. Tapi itu semua
tak mungkin, aku harus bisa menerima kenyataan dan bisa bangkit dari semua ini.
aku tak mau membuat ibu semakin sedih dan menambah beban ibu. Aku harus bangkit
dari keterpurukan dan membantu ibu untuk membuka lembaran baru tanpa ayah.
Terasa sangat teriris-iris, melihat sedikit demi
sedikit tanah mulai menutupi tubuh ayah. Itu menandakan bahwa sekarang duniaku
dan dunia ayah sekarang berbeda.
Selamat tinggal ayah. Semoga Allah mempertemukan kita
di syurga-Nya nanti ya yah. Aku hanya bisa mendo’akan ayah dari sini. Ayah
istirahat yang tenang yah. Aku, ibu dan adik akan baik-baik saja. Ayah disana
jangan khawatir. Aku janji tidak akan bandel lagi dan menyusahkan ibu. Dan akan
aku kubur impianku untuk sekolah lagi, aku tak mau merengek-rengek tentang hal
itu ke ibu, aku tidak mau ibu meninggalkan aku lagi seperti ayah meninggalkan
aku karna keinginanku itu. Ayah, aku pulang dulu yah, nanti aku akan ke sini
lagi. Selamat beristirahat yang panjang ayah.
Langkah demi langkah aku tinggalkan peristirahatan
ayah yang terakhir menuju lembar kehidupan yang baru, kehidupan tanpa seorang
AYAH. BERSAMBUNG…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar